dialiser reuse.pdf

February 10, 2019 | Author: faustina | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download dialiser reuse.pdf...

Description

PEMAKAIAN DIALIZER REUSE YANG LAYAK DIGUNAKAN PADA PASIEN DENGAN HEMODIALISA

Sukardi1), Muhamad Rofii2) 1) 2)

Perawat Hemodialisa Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta Staf Pengajar Departemen Dasar Keperawatan dan Keperawatan Dasar Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro email: [email protected]

Abstrak Latar belakang. Dializer reuse merupakan penggunaan ulang dializer dalam proses hemodialisis. Dializer reuse dapat digunakan jika nilai total cell volume (TCV) masih diatas 80% dari nilai awal. Jika TCV kurang dari 80% akan menyebabkan tidak efektifnya proses hemodialisis yang ditandai dengan gejala uremia pasca hemodialisis. reuse berdasarkan pengamatan Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pemakaian dializer reuse berdasarkan terhadap total cell volume pada volume  pada pasien yang dilakukan hemodialisia di rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan memaparkan hasil Metode. Penelitian  pengamatan total cell volume dari volume dari pemakaian dializer reuse. reuse. Penelitian ini dilakukan pada pa sien yang dilakukan hemodialisa di ruang hemodialisa di rumah sakit. Pengambilan sampel dengan menggunakan tehnik  purposive  sampling  dengan  dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Responden adalah pasien penyakit gunajl kronis stadium 5 yang menjalani hemodialisis rutin 2 kali seminggu dan sudah terpasang  AV shunt . Pengamatan dializer dilakukan mulai dializer baru dializer baru sampai pemakaian reuse reuse ke-7. Hasil. Prosentase rata-rata pemakaian dializer sebanyak 6 kali pemakaian. Kesimpulan. Kelayakan penggunaan dialiser reuse berdasarkan pengamatan terhadap total cell volume adalah sebanyak 6 kali pemakaian. Penggunaan lebih dari 6 kali pemakaian akan berakibat ketidakadekuatan pada  proses hemodialisis. hemodialisis. volume. Kata Kunci: hemodialisis, dializer reuse, total cell volume.

8

Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume Volume 1, No. 1, Mei 2013; 8-14

Pendahuluan

Penyakit ginjal kronis stadium 5 adalah kerusakan pada ginjal yang terus  berlangsung dan tidak dapat diperbaiki(Smeltzer, Brenda 2001). Menurut McCarley & Lewis dalam Charlene, dkk pada penyakit ginjal kronis stadium 5, Glumerulus filtration rate (GFR) kurang dari 5 -10% dari normal atau  jika clearance creatinin kurang dari 5 -10 ml/menit(Reeves, 2001). Angka kejadian penyakit ginjal kronis stadium 5 sejak 10 – 15 tahun belakangan ini semakin meningkat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Keadaan ini terutama disebabkan oleh makin  banyaknya ditemukan penyakit diabetes mellitus dan hipertensi yang merupakan  penyebab terbanyak terjadinya penyakit ginjal kronis stadium selain  glomerulonefritis (Dharmeizar, 2012) Peningkatan jumlah pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 akan meningkatkan dana untuk pengobatan pasien tersebut. Dana pengobatan tersebut berasal dari dana  pribadi, Askes, Jamkesmas, Jamkesda maupun dari perusahaan. Sifat dari  pengobatan dialisis adalah sebagai terapi  pengganti sehingga pengobatan dilakukan secara terus-menerus sehingga membutuhkan biaya yang banyak. PT Askes memberlakukan penggunaan alat dengan sistem reuse pada dializer (ginjal  buatan) sehingga diharapkan akan mengurangi biaya operasional. Pemakaian ulang dializer  (dializer reuse) adalah suatu tindakan pemakaian dializer lebih dari satu kali pada pasien yang sama.  Dializer   setelah digunakan dalam proses hemodialisis dibersihkan dan dilakukan sterilisasi baik menggunakan mesin maupun manual. Pemakaian dializer reuse  di Indonesia mulai sekitar tahun 1998 sebagai dampak

dari krisis moneter yang melanda Indonesia. PT Askes yang merupakan  penyandang dana untuk asuransi kesehatan  pegawai negeri memberlakukan sistem reuse ini (Dharmeizar, 2012). Penelitian tentang pemakaian dializer  reuse  hanya merekomendasikan pada  pemakaian ke-4 dan ke-5 karena berbagai alasan antara lain sudah terjadi penurunan nilai total cell volume sehingga sudah tidak optimal bila dipakai untuk proses hemodialisis (Sudarmo, 2010). Berdasar latar belakang di atas peneliti ingin mengetahui gambaran pemakaian dializer reuse  berdasarkan pengamatan total cell volume  pada pasien dengan hemodialisa. Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini memaparkan hasil  pemeriksaan total cell volume  dari  pemakaian dializer  baru sampai pemakaian dializer reuse  ke-7 sehingga diketahui sampai berapa terjadi penurunan volume dializer.  Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani hemodialisis rutin 2-3 kali per minggu di ruang hemodialisa. Pengambilan sampel dalam  penelitian ini dilakukan dengan tehnik  purposive sampling.  Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit pada bulan November sampai bulan Desember 2012. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu dializer , dengan mengamati total cell volume terhadap dializer  baru dan dializer reuse. Alat yang akan dipakai dalam penelitian ini berupa dializer CAHP 170, gelas ukur, spuit 10 cc, spuit 50 cc dan lembar catatan. Uji validitas dan reabilitas sesuai dengan tera pabrik.

Pemakaian Dialyzer Reuse Yang Layak Digunakan Pada Pasien Dengan Hemodialisa Sukardi, Muhamad Rofi

9

Hasil penelitian

Tabel 1. Pemakaian dializer reuse  berdasarkan pengamatan total cell volume pada pasien penyakit ginjal kronis di Ruang Hemodialisa bulan November – Desember 2012 (n=30)

No

Pemakaian

Frekuensi

dializer reuse 1. 2. 3. 4. 5. 6

1 3 4 5 6 7 Jumlah

2 3 3 2 3 17 30

Berdasarkan tabel 1 pemakaian dializer reuse yang paling sedikit pemakaiannya adalah 2 kali sebanyak 6,7% dan

Prosentase (%) 6,7% 10% 10% 6,7% 10% 56,7% 100%

 pemakaian terbanyak adalah  pemakaian sebanyak 56%.

8

kali

Tabel 2. Penurunan rata-rata dializer reuse pada pasien dengan penyakit ginjal kronis di Ruang Hemodialisa bulan November – Desember 2012 (n=30) Jenis Dializer No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 10

Baru 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98 98

R1 96 96.6 80 96.6 98 98.6 98 98 98 98 94 97.8 97 98 94 98 96 98 96 94.6 93.6 97.8 92 96.6 97.6 93.8 97.8

R2 94.2 94 72.2 90 99.6 90 97.8 96.8 96.8 96 93.6 96.8 96.6 96.4 86 96 96 97.4 94.6 92 96.2 88.2 96 87.6 93.4 97.4

R3 92.6 92.8 86.6 98.6 88.4 96.6 96 96.2 94.8 90 96.2 96.2 92.6 80.2 94.4 94.6 97.2 94.4 91 94.6 84.4 95.4 70.6 93 96.8

R4 88 88 84.2 98.6 71.6 96.6 94 94.6 92.6 86 94 96 90.4 78.4 93 92 96 94.4 86.4 94

90

R5 84.6 84.2 82.6 98.4 96.4 93.6 92.4 90.8 94.2 93.2 88.2 92.3 88.4 96 94.2 90.4 85

R6 79 79 80 98 96 91.8 90 86.6 87.4 92.6 88 86 88.6 93 82.6 84

96 96 90 88.8 86 86.6 90 86 84.6 88 92.4 80.4 82

88.6 96.2

86.6 95.8

84 94.4

75.4 94

Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 8-14

R7 76 76 -

Jenis Dializer No Baru 28 98 29 98 30 98 Jumlah 2940 Penurunan tcv% 100%

R1 97.6 97.6 98

R2 96.6 96.8 97.8

R3 94.2 94.2 96.8

R4 93.4 92.6 96.8

R5 92.8 90.2 96.6

R6 91.2 89 95.2

R7 90.2 89.6 94.8

2883.6

2722.8

2589.4

2366.4

2006.9

1856.4

1742.8

1.92%

7.39%

11.93%

19.51%

31.74%

36.86%

40.72%

Berdasarkan tabel 2 maka terjadi  penurunan  total cell volume  pada setiap kali pemakaian. Penurunan terendah terjadi

 pada pemakaian ke-2 sebesar 1,92% dan  penurunan pada pemakaian ke 5 mencapai 19,51%, dializer  dikatakan layak pakai.

Tabel 3. Rata-rata Pemakaian Dializer reuse pada pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis di Ruang Hemodialisa bulan November – Desember 2012 (n=30) Penurunan

Rata-rata Pemakaian

No

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

R1 2.04 1.43 18.37 1.43 0.00 -0.61 0.00 0.00 0.00 0.00 4.08 0.20 1.02 0.00 4.08 0.00 2.04 0.00 2.04 3.47 4.49 0.20 6.12 1.43 0.41 4.29 0.20 0.41 0.41 0.00

R2 3.88 4.08 26.33 8.16 -1.63 8.16 0.20 1.22 1.22 2.04 4.49 1.22 1.43 1.63 12.24 2.04 2.04 0.61 3.47 6.12 100.00 1.84 10.00 2.04 10.61 4.69 0.61 1.43 1.22 0.20

R3 5.51 5.31 100.00 11.63 -0.61 9.80 1.43 2.04 1.84 3.27 8.16 1.84 1.84 5.51 18.16 3.67 3.47 0.82 3.67 7.14 100.00 3.47 13.88 2.65 27.96 5.10 1.22 3.88 3.88 1.22

R4 10.20 10.20 100.00 14.08 -0.61 26.94 1.43 4.08 3.47 5.51 12.24 4.08 2.04 7.76 20.00 5.10 6.12 2.04 3.67 11.84 100.00 4.08 100.00 8.16 100.00 9.59 1.84 4.69 5.51 1.22 rata-rata

R5 13.67 14.08 100.00 15.71 -0.41 100.00 1.63 4.49 5.71 7.35 100.00 3.88 4.90 10.00 100.00 5.82 9.80 2.04 3.88 100.00 100.00 7.76 100.00 13.27 100.00 11.63 2.24 5.31 7.96 1.43

R6 19.39 19.39 100.00 18.37 0.00 100.00 2.04 6.33 8.16 11.63 100.00 10.82 5.51 10.20 100.00 100.00 12.24 9.59 5.10 100.00 100.00 15.71 100.00 14.29 100.00 14.29 3.67 6.94 9.18 2.86

R7 22.45 22.45 100.00 100.00 2.04 100.00 2.04 8.16 9.39 12.24 100.00 11.63 8.16 12.24 100.00 100.00 13.67 10.20 5.71 100.00 100.00 17.96 100.00 16.33 100.00 23.06 4.08 7.96 8.57 3.27

 Reuse

6 6 1 5 7 3 7 7 7 7 4 7 7 7 4 5 7 7 7 4 1 7 3 7 3 6 7 7 7 7 6

Pemakaian Dialyzer Reuse Yang Layak Digunakan Pada Pasien Dengan Hemodialisa Sukardi, Muhamad Rofi

11

dializer reuse  ke-8 penurunan total cell volume  masih dibawah 20% dari nilai dasar volume dializer . Penurunan nilai total cell volume dibawah 20% masih dapat dipakai untuk proses hemodialisis berikutnya karena penurunan sebesar 20% masih dianggap layak. Penggunaan alat tersebut masih memungkinkan seorang  pasien menjalankan hemodialisis secara adekuat. Pemakaian dializer reuse  di ruang hemodialisa Rumah Sakit ini juga  berbeda dengan apa yang dilakukan oleh peneliti. Pemakaian dializer reuse dengan evaluasi pengamatan secara visual memberikan hasil yang berbeda dikarenakan persepsi yang berbeda antar petugas sehingga ada dializer  yang seharusnya sudah tidak layak masih dipakai untuk proses hemodialisis. Evaluasi secara visual yang dilakukan di ruang hemodilisa Rumah Sakit ini tidak mampu melihat adanya  bekuan darah dalam kapiler dibagian terdalam dari alat tersebut. Alat yang kelihatan bersih dari luar kemungkinan  bagian terdalamnya sudah tersumbat oleh bekuan darah. Keadaan ini hanya mampu diobservasi dengan total cell volume. Akibat dari pemakaian dializer  yang sudah tidak layak memberikan efek terhadap pasien karena proses hemodialisis tidak adekuat. Tanda tanda  pasien dengan hemodialisis yang tidak adekuat bila masih dijumpai gejala gejala sebagai berikut: cepat lelah dan lemah, tidak ada nafsu makan, sulit tidur, pruritus, lidah tidak ada rasa, sulit konsentrasi, libido menurun, badan

12

sakit, tekanan darah tidak terkontrol (Lestariningsih, 2012). Tidak adekuatnya proses hemodialisis dapat dikurangi dengan  jalan menggunakan evaluasi  pengamatan total cell volume. Pengamatan ini mudah dilaksanankan dan tidak membutuhkan waktu lama. Evaluasi lain yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan mesin reuse  otomatis yang secara langsung dapat mengamati total cell volume. b. Pemakaian

Rata-rata

Pemakaian

 Dializer Reuse.

Hasil pengamatan terhadap total cell volume dializer reuse di ruang hemodialisa adalah ke-6 dengan standart deviasi sebesar 5,58. Hal ini  berbeda dengan penelitian Sudarmo yang menerangkan bahwa pemakaian dializer reuse  sebaiknya hentikan pada  pemakian ke 4 karena sudah terjadi  penurunan URR dan total cell volume sudah turun lebih dari 20% (Sudarmo, 2010). Penelitian Sudarmo menggabungkan penilaian hasil observasi total cell volume dengan hasil analisa laboratorium sehingga menguatkan terhadap pengamatan terhadap total cell volume,  sedangkan dalam penelitian ini hanya mengobservasi tentang total cell volume. Penelitian ini mengukur nilai total cell volume  untuk melihat penurunan volume dializer   sehingga dapat diketahui kelayakan dari alat tersebut. Penurunan nilai volume lebih dari 20%  berarti alat tersebut dianggap tidak layak pakai. Hasil ini menguatkan  penelitian dari Satdana dan Gunawan yang menerangkan bahwa penggunaan dializer reuse  ke-5 dibandingkan dengan pemakaian dializer   baru tidak

Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 8-14

ada perbedaan (Gunawan, 2011,Satdana, 2006). Persamaan  penelitian ini dengan penelitian dari Satdana dan Gunawan adalah samasama mengamati penggunaan alat dializer dalam proses hemodialisis. Penelitian Satdana dan Gunawan mengamati keefektifan dializer reuse  berdasarkan nilai hasil laboratorium sedangkan penelitian ini menekankan  pada kualitas alat dializer reuse  berdasarkan pengamatan volume alat tersebut. Perbedaan penelitian ini dengan  penelitian Satdana dan Gunawan adalah  penelitian Satdana dan Gunawan adalah membandingkan keefektifan alat dializer  baru dengan dializer reuse  berdasarkan nilai hasil laboratorium. Penelitian ini tidak membandingkan nilai hasil tapi melihat sampai dimana dialize reuse itu bisa dipakai. Rekomendasi

Hasil penelitian ini menunjukan  bahwa pemakaian paling rendah 2 kali sebesar 6,7%, pemakaian lebih dari 8 kali sebesar 56% dan rata-rata pemakaian dializer reuse di ruang hemodialisa adalah 6 kali pemakaian, sehingga rumah sakit hendaknya dapat menjadikan hasil  penelitian ini sebagai salah satu dasar untuk membuat kebijakkan tentang  penggunaan alat habis pakai khususnya  pengadaan alat dializer . Selain itu, perawat yang bertugas di ruang hemodialisa dapat menggunakan tehnik pengukuran total cell volume sebagai alat untuk mengevaluasi kelayakan dari dializer . Lebih lanjut, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pembekuan darah saat proses

hemodialisis yang dapat mempengaruhi total cell volume. Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh responden yang telah memberikan data dalam penelitian ini, Bapak Agus Santoso, S.Kp., M.Kep, Ibu Wahyu Hidayati, S.Kp., Sp.KMB. Tidak lupa kami ucapkan pula kepada Bapak dr. Bambang Djarwoto, Sp PD.,KGH, keluarga dan teman-teman seperjuangan yang telah memberikan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

Daftar pustaka Davita. (2009). Dializer Reuse Amankah?. Terdapat pada www.ygdi.org/kidneydisease.php. [cited 2012 7 May] Dharmeizar. (2012).  Naskah Lengkap Simposium Nasional Peningkata  Pelayanan Penyakit Ginjal Kronik dan  Indonesia Renal Registry. Yogyakarta: Pernefri Wilayah Yogyakarta. Gunawan. (2011). Perbedaan Penggunaan  Hemodialisa New Dializer dan Reuse  Dializer Terhadap Penurunan Kadar ureum Pada Penderita Gagal Ginjal Terminal di Unit Hemodialisa RSUD  Kraton Kabupaten Pekalongan. Digital library Universitas Muhammadiyah Semarang.[cited 2012 7 may] Lestariningsih. (2012).  Naskah Lengkap Simposium Nasional Peningkatan  Pelayanan Penyakit Ginjal Kronik dan  Indonesia Renal Registry. Yogyakarta: Pernefri Wilayah Yogyakarta. Reeves, JC. (2001). Keperawatan Medikal  Bedah. Jakarta: Medika Salemba. Satdana, A. (2006).  Pengaruh Pemakaian  Dializer Reuse terhadap penurunan

Pemakaian Dialyzer Reuse Yang Layak Digunakan Pada Pasien Dengan Hemodialisa Sukardi, Muhamad Rofi

13

 Kadar ureum kreatinin pada  penderita gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Tidar  Magelang . Repository Universitas Diponegoro. Schram,  D., Henrich, WL, Golper, TA. (2011).  Reuse-of-dializer. 2011. Terdapat di http://www.uptodate.com/contens. [cited 2012 7 May]. Smeltzer, CS, Brenda, GB. (2001).  Keperawatan Medikal Bedah Brunner th & Suddarth 8   Edition. Penerjemah H.Y. Kuncara Jakarta: EGC. Sudarmo E. (2010). Perbandingan kliren-n dan Rasio Penurunan Urea-n antara  ginjal buatan (dializer) Baru dan  pakai berulang . Repository Universitas Diponegoro. [cited 2012 19 May].

14

Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 8-14

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF